Minggu, 17 April 2011

akhlak

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.Dalam makalah ini kami membahas “Definisi Akhlak dan Macam-Macam Akhlak”, suatu tingkah laku yang dilakukan masyarakat yang menurutnya baik atau buruk. Akhlak bermacam-macam,ada akhlak terpuji dan akhlak tercela.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman masalah akhlak yang terpuji dan akhlak tercela yang sangat diperlukan diperhatikan dalam melakukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari, suatu tingkah laku yang dapat menjadikan pribadi yang baik utuk mendapatkan keridhoan Allah SWT.
Dalam proses pendalaman materi akhlak ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kami sampaikan :
• Ibu Retmiarti, selaku dosen mata kuliah “Pendidikan Agama Islam”
• Kedua orang tua kami tercinta
• Rekan-rekan mahasiwa yang telah banyak memberikan masukan untuk makalah ini.

Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat,

Jakarta ,22 Maret 2011
Penyusun




Pengertian Akhlak

Akhlak dari kata Al-Akhlak, jamak dari Al-khuluq yang artinya kebiasaan, perangai, tabiat dan agama.

Menurut Al Gazali, kata akhlak sering diidentikkan dengan kata kholqun (bentuk lahiriyah) dan Khuluqun (bentuk batiniyah), jika dikaitkan dengan seseorang yang bagus berupa kholqun dan khulqunnya, maka artinya adalah bagus dari bentuk lahiriah dan rohaniyah. Dari dua istilah tersebut dapat kita pahami, bahwa manusia terdiri dari dua susunan jasmaniyah dan batiniyah. Untuk jasmaniyah manusia sering menggunakan istilah kholqun, sedangkan untuk rohaniyah manusia menggunakan istilah khuluqun. Kedua komponen ini memilih gerakan dan bentuk sendiri-sendiri, ada kalanya bentuk jelek (Qobi’ah) dan adakalanya bentuk baik (jamilah). Akhlak yang baik disebut adab. Kata adab juga digunakan dalam arti etiket, yaitu tata cara sopan santun dalam masyarakat guna memelihara hubungan baik antar mereka.

Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku / perangai (Imal-Suluh) atau Tahzib al-akhlak (Filsafat akhlak), atau Al-hikmat al-Amaliyyat, atau al-hikmat al- khuluqiyyat. Yang dimaksudkan dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang kehinaan-kehinaan jiwa untuk mensucikannya. Dalam bahasa Indonesia akhlak dapat diartikan dengan moral, etika, watak, budi pekertim, tingkah laku, perangai, dan kesusilaan.

Ruang Lingkup Akhlak

a) Akhlak pribadi
Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.

b) Akhlak Berkeluarga
Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat.
Kewjiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, islam telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara istiqomah, terdidik untuk berani berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.

Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati. Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik,menyekolahkan engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.

c) Akhlak Bermasyarakat
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.

Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.

d) Akhlak Bernegara
Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dab penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama mereka.

e) Akhlak Beragama
Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk Tuhan.

Berangkat dari sistematika diatas dengan sedikit modifikasi penulis membagi pembahasan ruang lingkup akhlak antar lain:
1. Akhlak terhadap Allah SWT
2. Akhlak terhadap Rasullah Swt
3. Akhlak Pribadi
4. Akhlak dalam keluarga
5. Akhlak bermasyarakat
6. Akhl;ak bernagara

Dalam konsep akhlak segala sesuatu dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela, semata-mata karena syara (Qu’an dan Sunah) yang menilainya demikian. Namun akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jikqa etika dibatasi pada sopan santun antar sesame manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.



Pembinaan Akhlak

Pembinaan adalah suatu usaha untuk membina. Membina adalah memelihara dan mendidik, dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

Anak didik adalah anak yang masih dalam proses perkembangan menuju kearah kedewasaan. Hal ini berarti bahwa anak harus berkembang menjadi manusia yang dapat hidup dan menyesuaikan dari dalam masyarakat, yang penuh dengan aturan-aturan dan norma-norma kesusilaan. Oleh karena itu perlulah anak di didik, dipimpin kearah yang dapat dan sanggup hidup menuruti aturan-aturan dan norma-norma kesusilaan. Jadi maksud dari tujuan pendidikan akhlak atau kesusilaan adalah memimpin anak setia serta mengerjakan segala sesuatu yang baik dan meninggalkan yang buruk atas kemauan sendiri dalam segala hal dan setiap waktu.

Pada masa sekarang ini demoralisasi telah merajalela dalam kehidupan masyarakat, maka dari itu diperlukan usaha-usaha pendidikan dalam mengupayakan pembinaan akhlak terutama pada masa remaja, karena pada masa pubertas dan usia baligh anak mengalami kekosongan jiwa yang merupakan gejala kegoncangan pikiran, keragu-raguan, keyakinan agama, atau kehilangan agama. Menurut Al-Gazaly adalah menunjukkan suatu hikmah bahwa anak puber tersebut memerlukan bekal untuk mengisi kekosongan jiwanya melalui sublimasi dan “way out” dari problema yang dihindarinya.

Metode Pendidikan Akhlak
Yang dimaksud dengan metode disini ialah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Adapun metode Islam dalam upaya perbaikan terhadap akhlak adalah mengacu pada dua hal pokok, yakni pengajaran dan pembiasaan. Yang dimaksud dengan pengajaran adalah sebagai dimensi teoritis dalam upaya perbaikan dan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan pembiasaan untuk dimensi praktis dalam upaya pembentukan (pembinaan) dan persiapan.

Tujuan Pembinaan Akhlak
Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jika etika diatasi pada sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.
Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terlebih dahulu serta mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak diniah (agama) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa).
a) Akhlak Terhadap Allah
Titik tolak akhlak terhadap Allah atau pengukuran dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian Agung sifat terpuji itu, yang jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjunjungkan hakikatnya.

b) Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur’an berkaitan dengan perlakuan terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta hati dengan jalan menceritakan aib seseorang dibelakangnya, tidak peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambil memberikan materi kepada yang disakiti hatinya itu.
قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعهاازى والله غني حليم ( البقره 2/: 263)
Artinya : “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima)”.
(Q.S. Al-Baqarah/2 : 263).

Disisi lain Al-Qur’an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Nabi Muhammad SAW, misalnya dinyatakan sebagai manusia yang sempurna, namun dinyatakan pula sebagai Rosul yang memperoleh penghormatan melebihi manusia lain. Karena itu Al-Qur’an berpesan kepada orang-orang mukmin.
Jika seseorang memiliki niat buruk pada orang lain, tentu yang dilakukan dan dibicarakan akan menuju keburukan orang tersebut. Misalnya, jika hati seseorang sudah diliputi amarah dan dendam, meski tidak pernah diungkapkan, seseorang itu akan terus menyindir melalui omongan atau berlaku tidak semestinya, asal tujuannya membalas dendam dan menyakiti orang lain bisa tersampaikan. Begitupun sebaliknya.
Dari mana lagi kita mengingat sumber akhlak jika bukan melalui hati seseorang sendiri. Hati seseorang yang tidak memiliki penyakit hati, seperti iri, dengki, sombong, dendam, membuat pengetahuan akhlak dan perilaku layak kepada seseorang akan terlaksana dengan baik. Artinya, yang terpancar dari dalam hati itu akan berupa akhlakul karimah atau akhlak yang baik.
Ketulusan bersikap serta keikhlasan memberi sikap hormat dan baik kepada orang lain jarang ditemui zaman sekarang ini. Yang jelas terjadi di kehidupan sekitar kita adalah adanya pamrih seseorang dalam bersikap. Misalnya, jika kita mengingat kehidupan di kantor. Bagaimana seorang teman kita mati-matian mendukung atasan.
Apa yang dikatakan atasan merupakan sabda. Sementara ketika teman kita itu bergaul dengan teman sebaya, serasa kurang agresif dalam memberi sikap baik. Hasil perbincangan pun, biasanya, akan dibawa menghadap kepada atasan. Tentu sikap seperti itu banyak terjadi zaman sekarang.
Demi jabatan dan demi menjadi kepercayaan atasan, sikap seseorang bahkan tidak terkendali. Dalam kacamata teman ataupun atasan, tentu akan menempati sudut pandang yang buruk. Tidak pernah disukai.
Cara pandang seseorang mengenai makluk sekitar tentu akan membawa peran yang besar pada kelayakan tingkah dan akhlak. Bagaimana tidak, cara pandang ini akan menentukan bagaimana seseorang menghargai dan menghormati.
Yang kaya akan diperlakukan baik, sebaliknya yang miskin akan diperlakukan semena-mena. Bahkan, hanya orang yang baik pada kita yang diperlakukan baik, tidak bagi yang berlaku biasa atau bahkan buruk kepada kita.
Cara pandang seperti itu salah dalam pandangan Islam karena Rasulullah sendiri tidak mengajarkan untuk membenci seseorang walaupun itu orang kafir. Rasulullah, bahkan, memberi perlakuan baik kepada orang yang telah dengan sengaja berniat menyakiti.
Secara tidak langsung, jika ada sebuah pertanyaan tentang mengingat sumber akhlak, jawaban paling sederhana yaitu bersumber dari hati. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri pendidikan dari keluarga, pendidikan formal yang pernah diterima, dan lingkungan tempat tumbuh pun berpengaruh.
Dengan demikian, sudah pasti bisa diketahui tentang cara pandang seseorang terhadap orang lain. Tentu, tingkah laku seseorang akan dengan mudah ditebak. Yang disebut dengan akhlak seseorang akan tergambar jelas.
Yang tergambar belum tentu berasal dari dalam hati. Yang ada dalam hati belum tentu juga akan tergambar dalam tingkah laku dan perkataan. Perkataan dan perilaku pun tidak selamanya selalu menggambarkan isi dalam hati.
Bila dalam sudut pandang, kita menorehkan sedikit pemahaman bahwa setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Setiap individu tak pernah sama. Setiap individu memiliki kekurangan maupun kelebihan. Sama seperti diri kita sendiri. Itu sebabnya sangat penting untuk mengetahui dan memahami diri dan selalu mengoreksi diri sendiri.
Tentu saja, jika dalam sudut pandang kita ada hal semacam itu, kita akan dengan mudah memahami orang lain sekaligus mudah dalam mengambil sikap dan berperilaku.
Adanya kepastian dalam diri kita untuk tidak terjangkit penyakit hati, sementara tanpa peduli sikap yang lain kepada kita. Yang jelas, jika sumber akhlak dalam diri kita baik, tentu akhlak yang keluar juga baik.
Bila sumber mata air jernih dan yang dilewati juga batuan tidak berlumpur, tentunya air yang mengalir di atasnya akan jernih pula. Batuan-batuan di sana akan tampak dengan indah. Sama juga jika sumber akhlak kita baik, ketulusan hati, cara pandang dalam segala hal, maupun pendidikan tentang akhlakul karimah, tentunya keindahan-keindahan akan terlihat.
Namun, tantangan tak akan pernah berhenti. Mempertahankan memiliki sumber akhlak yang baik itu lebih sulit. Dan yang paling sulit lagi adalah memiliki akhlakul karimah sampai akhir hayat kita karena godaan dari lingkungan sekitar akan selalu datang menghampiri.




Pembagian Akhlak
Secara umum akhlak atau perilaku/perbuatan manusia terbagi menjadi dua; pertama; akhlak yang baik/mulia dan kedua; aklak yang buruk/tercela.
Macam-macam akhlak
1. Akhlak terhadap diri sendiri
2. Aklak terhadap keluarga (Orang tua, akhlak terhadap adik/kakak)
3. Akhlak terhadap teman/sahabat, teman sebaya
4. Akhlak terhadap guru
5. Akhlak terhadap orang yang lebih muda dan lebih tua
6. Akhlak terhadap lingkungan hidup/linkungan sekitar.
Dan inti dari berkakhlak tersebut diatas intinya adalah berakhlak baik kepada Allah SWT. Karena Allah SWT telah menjadikan diri dan lingkungan sekitar dengan lengkap dan sempurna.
Tugas Manusia/Tindakan Manusia
Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan utama penciptaannya adalah untuk beribadah. Ibadah dalam pengertian secara umum yaitu melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Manusia diperintahkan-Nya untuk menjaga, memelihara dan mengembangkan semua yang ada untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dan Allah SWT sangat membeci manusia yang melakukan tindakan merusak yang ada. Maka karena Allah SWT membenci tindakan yang merusak maka orang yang cerdas akan meninggalkan perbuatan itu, dia sadar bahwa jika melakukan per buatan terlarang akan berakibat pada kesengsaraan hidup di dunia dan terlebih-lebih lagi di akhirat kelak, sebagai tempat hidup yang sebenarnya. Maka intinya manusia harus berakhlak yang mulia.
Sementara itu, Hujjatul Islam Imam al Ghazali, mendefinisikan akhlak yang baik sebagai berikut:
وإنما الأخلاق الجميلة يراد بها العلم والعقل والعفة والشجاعة والتقوى والكرم وسائر خلال الخير، وشيء من هذه الصفات لا يدرك بالحواس الخمس بل يدرك بنور البصيرة الباطنة
“Sesungguhnya, yang dimaksudkan dengan akhlak yang indah adalah ilmu, akal, ‘iffah (rasa malu berbuat dosa), keberanian, taqwa, kemuliaan, dan semua perkara yang baik, dan semua sifat-sifat ini tidak hanya ditampilkan oleh panca indera yang lima, tetapi juga oleh cahaya mata hati dan batin.” (Ihya ‘Ulumuddin, Juz. 3, Hal. 393. Al Maktabah Asy Syamilah)
Sedangkan Ibnu Maskawaih berkata tentang akhlak:
الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية ولا روية
“Akhlak adalah kondisi bagi jiwa yang mengajak segala perbuatan kepadanya dengan tanpa dipikirkan, dan tanpa ditimbang-timbang.” (Ibnu Maskawaih, Tahdzibul Akhlaq, hal. 10. Al Maktabah Asy Syamilah)
Demikian makna akhlak yang diterangkan para ulama dan ahli bahasa. Semua pembicaraan tentang akhlak bermuara pada kondisi jiwa manusia yang ditampakkan oleh perbuatan mereka, yang didasarkan oleh pemahaman agama, Al Quran, dan ketaqwaan.
Kata Akhlak dalam Al Quran
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan seseungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti agung.” (QS. Al Qolam (68): 4)
Berkata Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari Rahimahullah:
وإنك يا محمد لعلى أدب عظيم، وذلك أدب القرآن الذي أدّبه الله به، وهو الإسلام وشرائعه.

“Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, benar-benar di atas adab (etika) yang mulia, itulah adab Al Quran yang dengannya Allah telah mendidiknya, yakni (adab) Islam dan syariat-syariatnya.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Juz. 23, Hal. 528. Al Maktabah Asy Syamilah)
Ucapan Imam Ibnu Jarir ini merupakan rangkuman dari berbagai tafsir tentang makna ‘Khuluqun ‘Azhim’, yang dimaknai oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Adh Dhahak, dan Ibnu Zaid, di mana mereka mengartikannya dengan makna ‘agama mulia’, yakni Islam. Sedangkan ‘Athiyah memaknainya dengan ‘Adabul Qur’an, (etika al Quran)’ (Ibid, Juz. 23, Hal.529-530. Al Maktabah Asy Syamilah)
Sementara itu, Aisyah Radhiallahu ‘Anha memaknai ayat ‘sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti agung’ adalah Al Quran. Sebagaimana riwayat berikut:
عن سعد بن هشام بن عامر ، في قول الله عز وجل ( وإنك لعلى خلق عظيم ) قال : سألت عائشة رضي الله عنها : يا أم المؤمنين ، أنبئيني عن خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقالت : « أتقرأ القرآن ؟ » فقلت : نعم ، فقالت : « إن خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم القرآن »
Dari Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir, tentang firmanNya ‘Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti agung’, dia berkata: ‘Aku bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Wahai Ummul Mu’minin, kabarkan kepada saya tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Beliau menjawab: “Apakah engkau membaca Al Quran?” Aku menjawab: “Tentu.” Dia berkata: “Sesungguhnya Akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al Quran.” (HR. Al Hakim, katanya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, Juz. 9, Hal. 39, No hadits. 3801. Al Maktabah Asy Syamilah)
Kata Akhlaq dalam As Sunnah
Selanjutnya adalah beberapa hadits yang memuat kata ‘akhlaq’ dan pengertiannya menurut para pensyarah.
Hadits Pertama
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang hal apa yang menyebabkan paling banyak manusia masuk ke surga, maka beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah, dan akhlaq yang baik.” (HR. At Tirmidzi, Kitab Al Birr wasAsh Shilah ‘an Rasulillah bab Maa Ja’a fi Husnil Khuluq, Juz. 7, Hal. 286 No hadits. 1927. Katanya: shahih gharib. Syaikh Al Albany mengatakan hasan. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, Hal. 5, Juz. 4, no. 2004. Al Maktabah Asy Syamilah)
Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri tentang makna husnul khuluq:
أَيْ مَعَ الْخَلْقِ ، وَأَدْنَاهُ تَرْكُ أَذَاهُمْ وَأَعْلَاهُ الْإِحْسَانُ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْهِ مِنْهُمْ

“Yaitu akhlak terhadap makhluk, dia mendekatkan diri dan menjauhkan dari sikap menyakiti mereka, dan lebih tinggi kebaikannya kepada siapa-siapa yang telah berbuat buruk kepadanya dari mereka.” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, Juz. 5, Hal. 252. Al Maktabah Asy Syamilah)
Dalam kitab yang sama:
قَالَ الطِّيبِيُّ قَوْلُهُ : تَقْوَى اللَّهِ إِشَارَةٌ إِلَى حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ مَعَ الْخَالِقِ بِأَنْ يَأْتِيَ جَمِيعَ مَا أَمَرَهُ بِهِ وَيَنْتَهِيَ عَنْ مَا نَهَى عَنْهُ وَحُسْنُ الْخَلْقِ إِشَارَةٌ إِلَى حُسْنِ الْمُعَامَلَةِ مَعَ الْخَلْقِ وَهَاتَانِ الْخَصْلَتَانِ مُوجِبَتَانِ لِدُخُولِ الْجَنَّةِ وَنَقِيضُهُمَا لِدُخُولِ النَّارِ فَأَوْقَعَ الْفَمَ وَالْفَرْجَ مُقَابِلًا لَهُمَا .
Ath Thayyibi berkata: “Sabda beliau,’ Taqwa kepada Allah’ merupakan isyarat terhadap baiknya pergaulan dengan Sang Pencipta, yakni dengan cara menjalankan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi dari dari apa-apa yang dilarangNya. “Akhlak yang baik’ merupakan isyarat terhadap baiknya pergaulan dengan sesama makhluk. Dua perangai ini akan mengantarkan kepada surga, sedangkan yang bertentangan dengan keduanya akan masuk ke neraka. Apa yang biasa dilakukan Mulut dan kemaluan, merupakan lawan dari kedua perangai itu. (Ibid)
Sementara Imam At tirmidzi meriwayatkan dari Imam Abdullah bin Mubarak tentang makna Husnul Khuluq (akhlaq yang baik):
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ وَصَفَ حُسْنَ الْخُلُقِ فَقَالَ هُوَ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ وَكَفُّ الْأَذَى

Dari Abdullah bin Mubarak, bahwa dia menyifati akhlak yang baik adalah wajah yang ceria, suka memberikan hal-hal yang baik, dan menahan tangannya dari menyakiti manusia. (Sunan At Tirmidzi, juz. 7, Hal. 287, no. 1928. Al Maktabah Asy syamilah)
Hadits Kedua
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُق

Dari Abu Darda, dia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di atas timbangan lebih berat dibandingkan akhlak yang baik.” (HR. At Tirmidzi, Kitab Al Bir wash Shilah ‘an Rasulillah Maa Ja’a fi Husnil Khuluq, Juz. 7, Hal. 285, no hadits. 1926. Abu Daud, Kitab Al Adab Bab Fi Husnil Khuluq, Juz.12, Hal. 421, No hadits. 4166. Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad jayyid,lihat Tuhfah al Ahwadzi, Juz. 5 Hal. 251, Al Mundziri berkata: juga diriwayatkan At Tirmidzi katanya: hasan shahih. Lihat ‘Aunul Ma’bud, Juz. 10, Hal. 321. Al Maktabah Asy Syamilah)
Imam Abu Thayyib Rahimahullah berkata tentang maksud hadits di atas:
أَيْ مِنْ ثَوَابه وَصَحِيفَته أَوْ مِنْ عَيْنه الْمُجَسَّد

“Yaitu pahala akhlak yang baik, catatannya dan nilai akhlak baik itu sendiri.” (Imam Abu Thayyid Muhammad Syamsuddin Abadi, ‘Aunul Ma’bud, Juz. 10 Hal. 321, No. 4166. Al Maktabah Asy Syamilah)
Hadits Ketiga
عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

Dari An Nawas bin Sam’an al Anshari, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Al Birr (kebaikan) dan Dosa, beliau bersabda: Al Birr adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa-apa yang membuat dadamu tidak nyaman, dan engkau membencinya jika manusia melihatnya.” (HR. Muslim, Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab Bab Tafsir Al Birr wal Itsm, Juz. 12, Hal. 403, no hadits. 4632. Al Maktabah Asy Syamilah)
Imam An Nawawi Rahimahullah mengomentari hadits ini:
قَالَ الْعُلَمَاء : الْبِرّ يَكُون بِمَعْنَى الصِّلَة ، وَبِمَعْنَى اللُّطْف وَالْمَبَرَّة وَحُسْن الصُّحْبَة وَالْعِشْرَة ، وَبِمَعْنَى الطَّاعَة ، وَهَذِهِ الْأُمُور هِيَ مَجَامِع الْخُلُق
“Berkata para ulama: Al Birr dimaknai dengan Ash Shilah (hubungan), dan bermakna kelembutan, kebaikan, persahabatan yang baik, dan pergaulan yang baik, dan juga bermakna ketaatan. Semuanya ini terhimpun pada kata Akhlak.” (Syarh An Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, Juz. 8, Hal. 343, no hadits. 4632. Al Maktabah Asy Syamilah)

Macam-Macam Akhlak
1. Akhlak kepada Allah Ta’ala
- MenjadikanNya satu-satunya ma’bud (sembahan) yang haq dan murni. (QS. 1: 5)(QS. 98:5)
- Taat kepadaNya secara mutlak. (QS. 4:65)
- Tidak menyekutukanNya dengan apa pun. (QS. 4: 116)
- MenjadikanNya sebagai tempat minta pertolongan. (QS. 1:5)
- Memberikan hak rububiyah, uluhiyah, asmaul husna dan sifatul ’ulya, hanya kepadaNya. (QS. 1;2), (QS. 114: 3)
- Tidak menyerupakanNya dengan apa pun (QS. 42: 11)
- Menetapkan apa-apa yang ditetapkanNya, mengingkari apa-apa yang diingkariNya, mengharamkan apa-apa yang diharamkanNya, dan menghalalkan apa-apa yang dihalalkanNya. (QS. 5: 48-49)
- MenjadikanNya sebagai satu-satunya pembuat syariat. (QS. 6: 57)
- Berserah diri kepadaNya (QS. 20:72)

2. Akhlak kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
- Mengakui dan mengimani bahwa Beliau adalah hamba Allah dan RasulNya. (QS. 18:110)
- Meyakini bahwa Beliau adalah Rasul dan NabiNya yang terakhir, dan risalahnya pun juga risalah terakhir. (QS. 30:40)
- Taat kepadanya secara mutlak. (QS. 4:65)
- Menjadikannya sebagai teladan yang baik dalam kehidupan, beragama, keluarga, sosial, dan lain-lain. (QS. 30:21)
- Meyakini bahwa syafa’at darinya hanya terjadi dengan idzin Allah ta’ala. (QS. 10:3), (QS. 20:109)
- Bershalawat padanya. (QS. 30:56)
- Menerima keputusannya secara lapang. (QS. 4: 59)
- Mencintai keluarganya (ahli baitnya). (HR. At tirmidzi, Juz.12, Hal. 260, No. 3722. Al Maktabah asy Syamilah)
- Mencintai para sahabatnya dan mengakui bahwa mereka adalah umat terbaik dan semuanya adil. (QS. 3: 110)
- Mencintai yang dicintainya dan membenci yang dibencinya.

3. Akhlak kepada manusia
- Berbakti kepada kedua orang tua (QS. 6:151) (QS.46:17)
- Menyambung silaturrahim (QS. 4:1) (QS. 2:27)
- Tolong menolong dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan. (QS. 5:2)
- Tawadhu’ (QS.7:199)
- Tidak mencela. (HR. Bukhari)
- Lemah lembut dan berkasih sayang kepada sesama muslim dan tegas terhadap orang kafir. (QS. 5:54) (QS. 48: 29)
- Sabar, menepati janji, dan jujur. (QS. 2:177)
- Pemaaf (QS. 2:109)
- Adil (QS. 3: 18)
- Dermawan (QS. 2: 245)
- Memuliakan tamu (QS. 11:69)
- Dan lain-lain.
Mengenal Macam-Macam Akhlak Tercela

Dalam Al-Quran, kata akhlaq tidak ditemukan, tetapi yang ditemukan hanya bentuk tunggal, yaitu kata khuluq, yang terdapat pada Surah Al-Qalam ayat keempat.
Kata akhlak banyak ditemukan pada hadits Nabi. Kata akhlaq diserap menjadi akhlak dengan menyesuaikan fonem /q/ dengan fonem /k/ dalam bahasa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai "budi pekerti" atau "kelakuan".
Berbicara tentang akhlak atau kelakuan, manusia memiliki bermacam kelakuan. Nilai kelakuan atau akhlak disandarkan pada dua nilai, yaitu baik dan buruk. Bersandar pada nilai baik dan buruk tersebut, seseorang dapat dikategorikan memiliki akhlak terpuji dan akhlak buruk (tercela).
Manusia bukan Malaikat dan Setan
Sebagai manusia, fitrah kita cenderung mengarah kepada hal-hal yang baik dan terpuji. Namun, karena manusia diberi akal, nafsu, dan syahwat, bisa jadi kedua tipe akhlak tersebut ada pada diri kita. Sampai ada istilah manusia itu ada di antara setan dan malaikat karena memiliki potensi berbuat baik dan berbuat buruk.
Sepanjang menjalani hidup, manusia pasti tidak akan luput dari perbuatan salah. Namun, jika perbuatan itu melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya, dapat dikategorikan sebagai orang yang berakhlak tercela atau buruk.
Akhlak tercela pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya, faktor tabiat atau watak asli, faktor lemahnya keimanan, dan faktor lingkungan. Orang yang sudah memiliki tabiat jelek atau tercela amat sukar melakukan perubahan, kecuali orang tersebut mau mengubahnya. Faktor lemahnya keimanan dapat menjerumuskan manusia kepada kemungkaran. Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada akhlak seseorang. Jika seseorang hidup dan bergaul dalam lingkungan penuh ketercelaan, dia akan terbawa mengikuti gaya hidup lingkungannya.
Akhlak Tercela
Apa saja yang termasuk akhlak tercela itu? Berikut macam-macam akhlak tercela.
1. Ujub
Ujub artinya terlalu membanggakan diri. Orang yang memiliki akhlak ini merasa dirinya yang paling serbabisa. Segala sesuatu yang diusahakan dia yakini adalah atas jerih payah dirinya. Peran orang lain, apalagi Allah Swt., dia kesampingkan. Padahal, kesuksesan yang diperoleh ada campur tangan Allah Swt.
2. Takabur
Takabur disamakan dengan sombong. Orang yang memiliki akhlak ini selalu memandang rendah orang lain. Seolah dia paling hebat, paling kaya, paling disegani, dan paling pandai. Kesombongan dapat menyebabkan seseorang besar kepala, bahkan menganggap dirinya lebih mulia. Kesombongan tidak pantas dimiliki manusia, yang berhak sombong adalah Allah Swt.
3. Dusta/Bohong
Sifat atau akhlak tercela lainnya adalah berbohong. Orang sering menganggap kebohongan kecil merupakan hal yang biasa. Padahal, dari kebohongan kecil dapat menjadi kebohongan besar. Nabi menjelaskan bahwa orang yang berbohong termasuk golongan munafik.
4. Dengki/Iri Hati
Orang yang memiliki sifat ini hidupnya tidak akan menemukan ketenangan. Soalnya, orang yang berperilaku dengki tidak akan senang melihat orang lain mendapatkan nikmat. Bahkan, orang yang dengki akan merasa bahagia jika orang lain mendapat musibah atau bencana. Sifat dengki merupakan cikal bakal perilaku tercela lainnya, seperti menggunjing dampai memfitnah.
5. Putus Asa
Orang yang memiliki sifat putus asa termasuk orang yang mudah menyerah dan tidak sabar. Sifat putus asa termasuk dosa. Jika seseorang mengalami kegagalan lalu dia berputus asa, bisa menjerumuskan dirinya kepada hal-hal yang dilarang, seperti mabuk minuman keras, narkoba, bahkan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Semoga kita tidak termasuk orang yang memiliki akhlak tercela. Jika ada dalam diri kita sifat tercela tersebut, segera bertobat dan perbaiki diri.

0 komentar:

ely supriyani © 2008 Por *Templates para Você*