Dari enam rukun iman yang diyakini umat Islam, ada dua yang tidak gaib, yaitu sosok Nabi Muhammad sebagai sosok historis dan kitab suci Alquran yang bisa kita baca dan kaji kandungannya, merupakan pintu gerbang ajaran Ilahi yang mengajarkan umat ini untuk hidup dan berkehidupan yang ”rahmatan lil alamin”.
Bila kita mengacu pada fakta historis keadaan umat islam (masyarakat muslim) pada zaman Rasullullah maka kita akan menemukan suatu kondisi masyarakat yang berperadaban tinggi, saling menghormati, tolong menolong, saling menyayangi, toleran, dan jalinan solidaritas sosial diantara mereka yang begitu indahnya. Hal ini terjadi karena adanya komitmen mereka pada sunnah-sunnah rasul dan kemampuan mereka untuk memposisikan rasul sebagai teladan dan panutan yang terbaik serta aplikasi mereka terhadap esensi ajaran islam yang syamil / komprehensif.
Jika kita bandingkan kondisi kehidupan bermasyarakat pada zaman rasulullah dengan kondisi sosial dewasa ini di negeri kita, Indonesia, sebuah negeri yang berketuhanan dan dihuni oleh mayoritas ummat Nabi Muhammad saw, maka kita akan melihat suatu perbedaan yang signifikan, di mana masyarakat kita saat ini sedang menghadapi sebuah krisis moral di setiap lapisan sosial dalam masyarakat, mulai dari tindakan kekerasan, penindasan terhadap yang lemah sampai kepada maraknya mafia hukum dan peradilan, ditambah dengan terkotak-kotaknya umat muslim karena kefanatikan dengan suatu golongan, belum lagi dengan krisis global, yang telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian dunia dan berdampak pada terpuruknya laju perekonomian, kemudian bencana alam melanda negeri ini hingga menyengsarakan sebagian rakyat Indonesia. Umat islam sebagai penghuni mayoritas di negeri tercinta ini jelas yang paling terkena imbas krisis tersebut, dapat terlihat oleh kita kemiskinan merajalela sehingga banyak saudara kita menjerit dengan beban ekonomi yang semakin menghimpit.
Realitas Faktual diatas tersebut sudah seharusnya menggugah kita untuk mewujudkan kepedulian sosial dan mempertebal rasa solidaritas diantara kita selaku umat yang inti ajarannya adalah cinta kasih dan persaudaraan, demi untuk meningkatkan jalinan ukhuwwah yang telah sejak dahulu disinyalir oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana sabdanya : “Muslim dengan muslim lain adalah saudara, layaknya tubuh manusia, sehingga dimana salah satu organ tubuh merasakan sakit maka organ-organ tubuh yang lainnya-pun sama merasakannya”.
CIRI-CIRI WANITA SOLEHAH
Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
Minggu, 17 April 2011
“ MAULID NABI DAN PENINGKATAN SOLIDARITAS UMAT MENUJU RAHMAT LIL’ALAMIN “
Diposting oleh ely yupzLabel: tugas-tugas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar